waktu berlahan melangkahi
dibawah langit secerah hari
ketika hati adalah pengingat
demi nuansa kasih melumat
lihat terpaku kumenundukan
ketika dia terdiam membeku
semua suasana terjadi pesan
entah terkatan aku membatu
andai saja aku bisa memberi
nyawa sebagai ganti luka dia
agar pengertian itu ada dihati
dering menjadi terabaikannya
resah sungguh memalu legam
pualam kasih hanya kebisuan
haruskah ini menjadikan diam
melumatlah dalam pengertian
cinta kasih adalah pilar meniti
penghias tonggak gerbang hati
tiada tertatih tetap pada melati
karena wangi kasih terpahami
risau melagu dipengiringan tadi
kini dia meluluhkan hati diri ini
pijar kasih begitu meresapi hari
bagai terbang kesuralaya mimpi
Banda Aceh, 01 Desember 2010
Rusdiansyah Hutagalung
Pedang penghayatan
sisasisa hidupku sebuah waktu yang mengalir bersama hati dan rasa akan perasaanku, kini kata adalah sayatan paling mulia tuk dapat berimajinasi bersama prisai hidupku bertarung melawan hawa gelap yang coba mendekati jiwa rapuh ini
Gadis gaun biru
aura bersayap gadis gaun biru melantunkan biola bermata dua sayatan pegas jemari melambai tuang kan hati penghayatan nada dibalik latar hitam suara berdetak notnot menarinari membawa hati diantara gelap bias cahaya membiru bagai malaikat cabut roh keangkuhan mawar biru terselip disela rambu sebagai penghias nuansa gaun biola biru resapi latar tangga nada santun latar nada memangil jiwa gadis gaun biru terseyum malu menatap gelap bias cahaya bersayap terlantun bait akhir suara bertahta sorak pun tiba legahkan dada
Makna Pangeran Prisai Kosmik
♣═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══♣
kosmik diri berpijar hati
dibalik prisai lindungi hati
sosok pangeran padukan hati
agar istana terbangun rapi
♣═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══♣
♪♫]▓▓║Si Sajak Dungu║▓▓[♫?
♣═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══♣
♪♫]▓▓║Si Sajak Dungu║▓▓[♫?
Arwah Penasaran
gamang melayang
hidup bukan
tampak mata
sikilas terdetak
iman dunia
tersesat hitam
nyawa melayang
dendam terbawa
usut diusut
tak pantas mati
nyawa melayang
durja dunia
hidup bukan
tampak mata
sikilas terdetak
iman dunia
tersesat hitam
nyawa melayang
dendam terbawa
usut diusut
tak pantas mati
nyawa melayang
durja dunia
Lembah Diwana
kupetik lingkar hayal
menyentuh akal
dibatas jedah irama
menenggelamkan rasa
kuhentak saat tersentak
dimana menatap benak
menyatakan kata membawa
kelembah-lembah diwana
mungkinkah itu benar
menyambar-nyambar
diatas ruang akal berpikir
saat bumi mencekik tergelincir
menyentuh akal
dibatas jedah irama
menenggelamkan rasa
kuhentak saat tersentak
dimana menatap benak
menyatakan kata membawa
kelembah-lembah diwana
mungkinkah itu benar
menyambar-nyambar
diatas ruang akal berpikir
saat bumi mencekik tergelincir
Fatamorgana "hantu jiwa"
diujung tiangtiang kerapuhan
cinta begitu diharapkan (dulu)
kini jiwa hati ini membuangnya
entah apa itu kebencian
atau ketidak berdayaan luka busuk
sulit dia sungguh mengiris-iris
bahkan ruh seakan hilang dari dunia
haruskah itu kematian
tak...tak...!
itu kebodohan dan kemurkaan bagi -Nya
sabar
sabarlah biar luluh menenangkan
sungguh tuan diam tunduk dan hujan meredam
(iya marah sebab puan tak lekat)
Banda Aceh, 18 Agustus 2010
cinta begitu diharapkan (dulu)
kini jiwa hati ini membuangnya
entah apa itu kebencian
atau ketidak berdayaan luka busuk
sulit dia sungguh mengiris-iris
bahkan ruh seakan hilang dari dunia
haruskah itu kematian
tak...tak...!
itu kebodohan dan kemurkaan bagi -Nya
sabar
sabarlah biar luluh menenangkan
sungguh tuan diam tunduk dan hujan meredam
(iya marah sebab puan tak lekat)
Banda Aceh, 18 Agustus 2010
Gambaran
wajah-wajah langit
berdialog erat
menyatu rupa
bersama tubuh bumi
ialah isi perwatakan hidup
sikap murni sisi tabir
berparas laras
terkadang melengkung
seperti isi cangkang
lupa dan kembali
ialah sisi belah nurani
itu arang bin abu
itu embun bin "?"
berdialog erat
menyatu rupa
bersama tubuh bumi
ialah isi perwatakan hidup
sikap murni sisi tabir
berparas laras
terkadang melengkung
seperti isi cangkang
lupa dan kembali
ialah sisi belah nurani
itu arang bin abu
itu embun bin "?"
Tahta megah bintang
sayup pijar
mengetuk hati
ketika malam
duduk memangku bintang
haruskah kiasan malam
menjelma tabir kehakikian
terhias sebuah kembang
pelangi mengelilingi purnama
dan bintang berkata :
awan kalbu menyiram langit
dipusaran dipembaringan kosmik
terbentang hiasan merajut
rasi-rasi bintang baru diangkasa
terimalah nabula ini
sebagai nisan diangkasa
terpahat bening tiada tulisan
mungil seperti bayi bintang itu
mengetuk hati
ketika malam
duduk memangku bintang
haruskah kiasan malam
menjelma tabir kehakikian
terhias sebuah kembang
pelangi mengelilingi purnama
dan bintang berkata :
awan kalbu menyiram langit
dipusaran dipembaringan kosmik
terbentang hiasan merajut
rasi-rasi bintang baru diangkasa
terimalah nabula ini
sebagai nisan diangkasa
terpahat bening tiada tulisan
mungil seperti bayi bintang itu
Kisah syair cinta "Menanam kebun hati"
Dunia singgah yang kutapaki berawal dari pijakan turun tanah dalam adat ibuku dan melakukan ritual adat upah-upah dalam ada ayahku tercipta kesejukan tertanam dalam hati ini tuk melangkah menjadi apa yang membuat mereka menjadi bahagia, ketika lahir aku dipupuk dengan air sejuk ibuku dan wejangan kalbu oleh ayahku, kini aku harus berpisah dari mereka atas keterbatasan waktu bersama mereka.
Tiga tahun lebih aku jauh dari cahaya dan kehangatan kasih sayang mereka, walau terkadang ketika waktu senggang memberikan aku libur untuk pulang tetap saja kepuasan batin ini jauh dari kedua pohon yang rindang itu.
Ayah, Ibu
haruskah aku jauh
walau aku pergi untuk jengkalan hidup
demi membahagiakan hatimu yang kini jauh
Ayah, Ibu
aku ingin seperti dulu
dipapah dengan kasih sayang
agar senantiasa aku lurus atas jalan
Ayah, Ibu
sambungkan akar itu lagi
agar kita bisa berkebun lagi
menanam hati menuju nanti hari akhir
Waktu telah mendekati bulan penuh berkah dan amanah, anakmu menjadi terniang kala lalu yang tak pernah dianggap berlalu, berbuka puasa bersama, sahur bersama dan mengingatkan aku tuk tidak lupa mengerjakan amalan dibulan baik ini, kau bangunkan aku ketika subuh saat tertidur untuk dapat bekumpul dengan kakak, abang dan adik-adikku untuk menikmati hidangan sederhana penuh berkah.
Malamku
bermandikan sepi
kolam kebisuan
rembulan menung
tenangkan malam
kidung lantun
instrumen jiwa
menghayati hati
meniti duri kegelapan
bersama theater visual
berkecimpung imajinasi
malam bunga kepak hati
memikul bait nada kasual
kolam kebisuan
rembulan menung
tenangkan malam
kidung lantun
instrumen jiwa
menghayati hati
meniti duri kegelapan
bersama theater visual
berkecimpung imajinasi
malam bunga kepak hati
memikul bait nada kasual
kulukis darah
merah bersimbah
abstrak seketsa
melukis langit
langit darahku
kini letih berbaring
berdarah getir
pucat terpasung
dikotak mati
hentikan....!
abstrak seketsa
melukis langit
langit darahku
kini letih berbaring
berdarah getir
pucat terpasung
dikotak mati
hentikan....!
Kulepas kepergianmu

kulepas kau pergi bila itu kehendakmu
semua kuanggap takdir dikehidupanku
sebab satu aku tak bisa bahagiaanmu
seperti apa hendak didambakan hatimu
kutau sejak awal kita bertemu itu angin
tiada yang pantas dapat dipertahankan
semua demi menghibur hidup kusunyi
karena hanya iba melihat dukaku sepi
aku sudah cukup terhibur oleh hatiku sendiri
menikmati kesunyian diantara sapa sahabat
bercerita dengan syair impian dan hayalku ini
dalam tajuk penyemangat tarian hati berjabat
menyimpul penapena kata dungku bersama tirai
(istriku, ia sepi merantai bersama suami, ia sunyi)
kebagiaan itu untukmu bukan untukku diperapian
menyulam gelap terpercik kimilau kotak penantian
bertepi tiada halang untuk langkah menapaki hidup
dan aku hanya tetap menerawang bergentayangan
demi sebunga wewangian yang aku dia pengertian
Detik waktu
jejak dunia waktu
bergeser menua
gigil tubuh berkata
gamang seolah tau
seketika kembali
jiwa tertinggal
ritual adat terpenggal
makam tinggal menamai
bergeser menua
gigil tubuh berkata
gamang seolah tau
seketika kembali
jiwa tertinggal
ritual adat terpenggal
makam tinggal menamai
Ketika menuju fajar
malam hendak menyapa fajar
kedua pijarku tak dapat terpejam
entah ada apa mengarungi pikiranku
hingga harus menuju malam berganti fajar
walau tubuh merasa letih kurasa
seolah arwahku terbang entah kemana
menapaki setiap sudut jemari
melentikkan kata tiada habisnya
terajam oleh lintasan waktu tanpa waktu
harukah aku memikirkan
apa yang tak pantas aku pikirkan
berbaris fatwa hingga menjemput
heningku hampir tak berdaya
salahkah bila aku tergenang
oleh tirani kesendirianku diantara sepi
melawan takdir demi takdir
menghakikatkan masa menuju masa
hingga fajar menjadi selimut
rebah tiada sadar dimeja kerjaku ini
hanya ketika menuju fajar datang
menjemput lara duka dan kini mimpi
kedua pijarku tak dapat terpejam
entah ada apa mengarungi pikiranku
hingga harus menuju malam berganti fajar
walau tubuh merasa letih kurasa
seolah arwahku terbang entah kemana
menapaki setiap sudut jemari
melentikkan kata tiada habisnya
terajam oleh lintasan waktu tanpa waktu
harukah aku memikirkan
apa yang tak pantas aku pikirkan
berbaris fatwa hingga menjemput
heningku hampir tak berdaya
salahkah bila aku tergenang
oleh tirani kesendirianku diantara sepi
melawan takdir demi takdir
menghakikatkan masa menuju masa
hingga fajar menjadi selimut
rebah tiada sadar dimeja kerjaku ini
hanya ketika menuju fajar datang
menjemput lara duka dan kini mimpi
Catatan Hidup
kini ketika
diujung malam
wadah baruku
terselesaikan
sebuah sayatan
catatan hidup
diantara langkah
langkah menatih
berdikari diantara sepi dibalik sunyi
(menarik nafas legah tersenyum sayang)
diujung malam
wadah baruku
terselesaikan
sebuah sayatan
catatan hidup
diantara langkah
langkah menatih
berdikari diantara sepi dibalik sunyi
(menarik nafas legah tersenyum sayang)
Perjalanan Kematian
diujung malam 40 hari sebelum
wajah kusam linglung bingung
beranjak pucat dingin sekujur
arwah bertabur digoncang panggil
murung mendengkur nafas tersesak
kiblat tiada pintu telat tertutup
hanya menunggu siksa atau dupa
memberi isyarat kepada terdekat
namun dipenghujung telah usai tiada
kata terucap nafas hilang seketika
hanya penggali digali liang ditanah basah
hisak menabur segerombolan lebah serumpun
mengamit puja penghantar tertuju tenang
: kematian
tandus jiwa tercabut lemas
hilang kembali Satu
ditanya dengan lafas
gagu bingung iman tiada
cambuk remuk
api menanah lucutan akhir
terlepar lahap hangus binasa
kembali siksa hingga usai
wajah kusam linglung bingung
beranjak pucat dingin sekujur
arwah bertabur digoncang panggil
murung mendengkur nafas tersesak
kiblat tiada pintu telat tertutup
hanya menunggu siksa atau dupa
memberi isyarat kepada terdekat
namun dipenghujung telah usai tiada
kata terucap nafas hilang seketika
hanya penggali digali liang ditanah basah
hisak menabur segerombolan lebah serumpun
mengamit puja penghantar tertuju tenang
: kematian
tandus jiwa tercabut lemas
hilang kembali Satu
ditanya dengan lafas
gagu bingung iman tiada
cambuk remuk
api menanah lucutan akhir
terlepar lahap hangus binasa
kembali siksa hingga usai
Langganan:
Postingan (Atom)

